Amalan Nisfu Sa’ban, bid’ah atau tidak?

26 07 2010

Di malam Nisfu sa’ban atau pertengahan bulan sa’ban, banyak orang membaca Surat Yassin, Sholat Sunnah 100 rokaat dan amalan lainnya.

Kita harus tahu awal mula atau sejarah malam nisfu sa’ban agar kita tidak tersesat amalan yang merupakan bid’ah atau perbuatan yang  tidak dicontohkan nabi, karena akan ditolak oleh Alloh Ta’ala, hal ini berdasar hadist berikut:

Dari ‘Aisyah  berkata, dari Nabi  bersabda: “Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam perkara kami (agama islam) yang tidak termasuk darinya maka hal itu pasti tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada salahnya beribadah, berlomba-lomba dalam hal kebaikan atau fastobiul khoirot sehingga kita memacu amal kita, tidak hanya di malam pertengahan bulan Sa’ban atau Nisfu Sa’ban tiap hari, tiap saat, tiap detik kita harus beramal baik, sehingga kita beramal bukan pada saat-saat tertentu saja.

Mari kita kembali kepada ajaran Rosul Muhammad SAW tentang syariat yang Beliau ajarkan.

berikut adalah tulisan yang diambil dari eramuslim.com (link sumber diakhir) yang merupakan tanya jawab, saya ambilnya eramuslim.com karena dari beberapa tulisan, hanya eramuslim.com yang mengulas lebih menyeluruh dan berimbang.

Silahkan dibaca dan mari kita amalkan kepada yang lain.

Kebenaran hanya milik Alloh Ta’ala, semoga kita diampuni segala khilaf dan dosa kita serta menempatkan amal baik kita untuk menolong kita di hari akhir.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustadz YTH,

Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan Nisfu Sya’ban ? Adakah Sirah yang melatar-belakangi istilah ini dan apakah amalan yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menyambutnya ?

Terima kasih, Jazakumullah……

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ashriyati Ishak

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ashriyati yang dimuliakan Allah

Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan sya’ban. Adapun didalam sejarah kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi pemindahan kiblat kaum muslimin dari baitul maqdis kearah masjidil haram, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi didalam menafsirkan firman Allah swt :

سَيَقُولُ السُّفَهَاء مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَّهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُواْ عَلَيْهَا قُل لِّلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاء إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya : “Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. Al Baqoroh : 142)

Al Qurthubi mengatakan bahwa telah terjadi perbedaan waktu tentang pemindahan kiblat setelah kedatangannya saw ke Madinah. Ada yang mengatakan bahwa pemindahan itu terjadi setelah 16 atau 17 bulan, sebagaimana disebutkan didalam (shahih) Bukhori. Sedangkan Daruquthni meriwayatkan dari al Barro yang mengatakan,”Kami melaksanakan shalat bersama Rasulullah saw setelah kedatangannya ke Madinah selama 16 bulan menghadap Baitul Maqdis, lalu Allah swt mengetahui keinginan nabi-Nya, maka turunlah firman-Nya,”Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.”. Didalam riwayat ini disebutkan 16 bulan, tanpa ada keraguan tentangnya.

Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Said dari Said bin al Musayyib bahwa pemindahan itu terjadi dua bulan sebelum peperangan badar. Ibrahim bin Ishaq mengatakan bahwa itu terjadi di bulan Rajab tahun ke-2 H.

Abu Hatim al Bistiy mengatakan bahwa kaum muslimin melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari. Kedatangan Rasul saw ke Madinah adalah pada hari senin, di malam ke 12 dari bulan Rabi’ul Awal. Lalu Allah swt memerintahkannya untuk menghadap ke arah ka’bah pada hari selasa di pertengahan bulan sya’ban. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid I hal 554)

Kemudian apakah Nabi saw melakukan ibadah-ibadah tertentu didalam malam nisfu sya’ban ? terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw banyak melakukan puasa didalam bulan sya’ban, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Aisyah berkata,”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau saw berpuasa (selain ramadhan, pen) adalah sya’ban. Beliau saw berpuasa (selama) bulan sya’ban kecuali hanya sedikit (hari saja yang beliau tidak berpuasa, pen).”

Adapun shalat malam maka sessungguhnya Rasulullah saw banyak melakukannya  pada setiap bulan. Shalat malamnya pada pertengahan bulan sama dengan shalat malamnya pada malam-malam lainnya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah didalam Sunannya dengan sanad yang lemah,”Apabila malam nisfu sya’ban maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.

Sesungguhnya Allah swt turun hingga langit dunia pada saat tenggelam matahari dan mengatakan,”Ketahuilah wahai orang yang memohon ampunan maka Aku telah mengampuninya. Ketahuilah wahai orang yang meminta rezeki Aku berikan rezeki, ketahuilah wahai orang yang sedang terkena musibah maka Aku selamatkan, ketahuilah ini ketahuilah itu hingga terbit fajar.”

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan,”Walaupun hadits-hadits itu lemah namun bisa dipakai dalam hal keutamaan amal.” Itu semua dilakukan dengan sendiri-sendiri dan tidak dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama).

Al Qasthalani menyebutkan didalam kitabnya “al Mawahib Liddiniyah” juz II hal 259 bahwa para tabi’in dari ahli Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul bersungguh-sungguh dengan ibadah pada malam nisfu sya’ban. Manusia kemudian mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu. Disebutkan pula bahwa yang sampai kepada mereka adalah berita-berita israiliyat. Tatkala hal ini tersebar maka terjadilah perselisihan di masyarakat dan diantara mereka ada yang menerimanya.

Ada juga para ulama yang mengingkari, yaitu para ulama dari Hijaz, seperti Atho’, Ibnu Abi Malikah serta para fuqoha Ahli Madinah sebagaimana dinukil dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ini adalah pendapat para ulama Maliki dan yang lainnya, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah.

Kemudian al Qasthalani mengatakan bahwa para ulama Syam telah berselisih tentang menghidupkan malam itu kedalam dua pendapat. Pertama : Dianjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah di masjid. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wangi-wangian dan menghidupkan malamnya di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rohawaih. Dia mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan cara berjama’ah tidaklah bid’ah, dinukil dari Harab al Karmaniy didalam kitab Masa’ilnya. Kedua : Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat, berdoa akan tetapi tidak dimakruhkan apabila seseorang melaksanakan shalat sendirian, ini adalah pendapat al Auza’i seorang imam dan orang faqih dari Ahli Syam.

Tidak diketahui pendapat Imam Ahmad tentang malam nisfu sya’ban ini, terdapat dua riwayat darinya tentang anjuran melakukan shalat pada malam itu. Dua riwayat itu adalah tentang melakukan shalat di dua malam hari raya. Satu riwayat tidak menganjurkan untuk melakukannya dengan berjama’ah. Hal itu dikarenakan tidaklah berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Dan satu riwayat yang menganjurkannya berdasarkan perbuatan Abdurrahman bin Zaid al Aswad dan dia dari kalangan tabi’in.

Demikian pula didalam melakukan shalat dimalam nisfu sya’ban tidaklah sedikit pun berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Perbuatan ini berasal dari sekelompok tabi’in khususnya para fuqaha Ahli Syam. (Fatawa al Azhar juz X hal 31)

Sementara itu al Hafizh ibnu Rajab mengatakan bahwa perkataan ini adalah aneh dan lemah karena segala sesuatu yang tidak berasal dari dalil-dalil syar’i yang menyatakan bahwa hal itu disyariatkan maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menceritakannya didalam agama Allah baik dilakukan sendirian maupun berjama’ah, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan berdasarkan keumuman sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” Juga dalil-dalil lain yang menunjukkan pelarangan bid’ah dan meminta agar waspada terhadapnya.

Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.

Sementara itu al Auza’i berpendapat berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan shalat (menghidupkan malam nisfu sya’ban, pen) adalah makruh karena menghidupkan malam itu tidaklah berasal dari Rasul saw dan tidak juga dilakukan oleh seorang pun dari sahabatnya.

Sementara itu Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin ‘Amir serta Ishaq bin Rohawaih menganjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah.”

Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, berdzikir maupun berdoa kepada Allah swt yang dilakukan secara sendiri-sendiri. Adapun apabila hal itu dilakukan dengan brjama’ah maka telah terjadi perselisihan dikalangan para ulama seperti penjelasan diatas.

Hendaklah ketika seseorang menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah-ibadah diatas tetap semata-mata karena Allah dan tidak melakukannya dengan cara-cara yang tidak diperintahkan oleh Rasul-Nya saw. Janganlah seseorang melakukan shalat dimalam itu dengan niat panjang umur, bertambah rezeki dan yang lainnya karena hal ini tidak ada dasarnya akan tetapi niatkanlah semata-mata karena Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Begitu pula dengan dzikir-dzikir dan doa-doa yang dipanjatkan hendaklah tidak bertentangan dengan dalil-dalil shahih didalam aqidah dan hukum.

Dan hendaklah setiap muslim menyikapi permasalahan ini dengan bijak tanpa harus menentang atau bahkan menyalahkan pendapat yang lainnya karena bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para ulama meskipun hanya dilakukan oleh para tabi’in.

Wallahu A’lam

sumber: www.eramuslim.com


Aksi

Information

28 responses

27 07 2010
Pur

Ha ha ha ha ha
Orang ini kalo gak idiot, ya goblog dan tolol
Kalo hanya boleh melakukan apa yang dicontohkan Rasul
Ya sampean saat ini pake surban, jalan kaki atau paling banter naik onta
Kalo sampean pake motor-mobil, pake celana panjang dan hem, pake AC etc etc etc, maka sampean full bid’aaaaaaaaaaaaaaaaaaah
Ingat adzan subuh, doa-2 kreatifitas sahabat yang diijinkan rasul etc etc etc???
Ha ha ha ha ha

27 07 2010
dwiyono17

alhamdulillah…
mungkin kita harus belajar tentang macam-macam bid’ah.
Rosul tidak perna mengajarkan cara mengingatkan orang dengan mencelah, justru rasul mengajarkan hal yang baik.
memang mudah-mudahan anda tidak idiot seperti mengatai saya, mudah2an anda tidak goblog seperti saya seperti yang anda katakan kepada saya, mudaha2an Alloh Ta’ala tidak menciptakan anda dalam keadaan tolol seperti anda mengatai saya…
Kita harus belajar pengertian bid’ah, macam bid’ah, dasar yang mengatakan bid’ah harus kita pelajari sebelum kita bicara, sehingga kita tidak tersesat dalam “lingkaran setan”.
saya dalam tulisan tersebut tidak mengatakan amalan yang ada bid’ah, hanya mengingatkan, hanya membuka sesuatu yang harus kita ketahui, makanya saya pilih tulisan yang memberi pandangan secara menyeluruh tentang perbedaan.

perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :

[1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.

[2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

MACAM-MACAM BID’AH

Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

[1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

[2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

[a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

[b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

[c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[d]. Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

untuk lebih jelas, berikut link tentang penjelasan bid’ah, macam dan bentuknya, monggo, silahkan dibaca dengan menyebut Asma Alloh…
Sumber 1
Sumber 2

Semoga Alloh Ta’ala mengampuni segala salah dan khilaf, mohon maaf…
Wassalam

27 07 2010
ali

Wallahualam….

27 07 2010
dwiyono17

alhamdulillah….
Semoga Alloh mengampuni segala salah dan khilaf kita dan menerima amal baik kita…
terima kasih sudah mau berkomentar…
wassalam

27 07 2010
sarihunhasan

Ass.
Sebagaimana malam nisfu sya’ban yang lalu, tadi malam saya juga ikut di Masjid di daerahku,
amalannya Sholat taubat, sholat hajat, Baca Surah Yasin.
kalau saya tidak berani menghukumi malam nisfu sya’ban itu bid’ah atau bukan, saya hanya berkeyakinan ketiga amalan yang dilakukan tadi malam masih didalam perintah Nabi, Sholat taubah ada sunahnya, Sholat hajat ada sunahnya, Baca Surat Yasin juga ada sunahnya.

27 07 2010
dwiyono17

Waalaikumsalam wr wb
Coba anda cermati tulisan tersebut, apa ada yang menghukumi?
Dalam tulisan yang merupakan tanya jawab tersebut memberikan dalil masing2, dan saya rasa saya tidak menghukumi, makanya saya sampaikan bid’ah atay tidak.
Sedangkan bi’sah sendiri ada beberapa macam.
Jika yang mengikuti, tentu punya dalil sendiri, yang mengatakan bid’ah juga mempunyai dalil sendiri.
Sholat taubat tidak harus pada malam tertentu, sholat hajat tidak harus malam tertentu, baca Surat Yasin juga tidak harus pada malam tertentu, kapan saja kita amalkan itu baik, karena Alloh Yang Maha Tahu.
Semoga salah dan khilaf kita diampuni Alloh Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan memberikan petunjuk, rahmat, syafa’at dan ampunan-Nya…
Wassalam

27 07 2010
Tamsir

Ass. Wr. Wb. Mas Dwi,
Saya mu tanya. ..
Kalo kegiatan smua itu tadi yang sdh dibahas (baca Yasin, Shalat Taubat dan lain-lain) tidak ada pengkhususkan waktunya,
sesuai tulisan mas Dwi: “Sholat taubat tidak harus pada malam tertentu, sholat hajat tidak harus malam tertentu, baca Surat Yasin juga tidak harus pada malam tertentu, kapan saja kita amalkan itu baik”
Berarti tidak terbatas waktunya ya mas ?
Jadi apabila kita melaksanakan kegiatan itu semua di Malam Nisfu sya’ban apakah termasuk bid’ah ?
Terima kasih .

Wass. Wr. Wb.

27 07 2010
dwiyono17

waalaikum salam wr wb
terima kasih atas responnya saudara ku Tamsir,
Di sini kita merujuk pada saat tertentu atau lebih mudahnya mengkhususkan, padahal Alloh membuat waktu itu semua baik, tidak ada waktu yg tidak baik.
hanya sholat sunnah tertentu dilaksanakan pada malam tertentu, yakni qiamul lail , atau sholat tahajud dan sholat witir.
pertanyaan saya, kenapa harus melaksanakan tiga perkara tersebut harus pada malam tersebut? kenapa tidak tiap saat?
saya tidak akan mengatakan bid’ah atau tidak, tapi anda nilai, anda pilih sendiri, dengan membaca dalil yang ada, sehingga kita bisa memilih yang mana terkait dalam mengkhususkan amalan tertentu pada masa tertentu.
yang di bahas adalah kenapa “hanya” dilakukan pada malam pertengahan bulan sya’ban? kenapa tidak tiap saat? apa harus menunggu malam pertengahan bulan sya’ban?
apa sudah dibaca lengkap artikel tersebut? Jika belum, mohon di baca dan di kaji lebih dalam lagi, karena dalil yang menguatkan masing-masing ada di sana, juga tanggapan komentar saya kepada yang lain.
semoga Alloh mengampuni segala dosa dan khilaf kita.
terima kasih terjalin nya silaturahmi.
Wassalam

27 07 2010
viva

Sejuk sekali komentar2 mas Dwi…
Setuju mas…. memang sebenarnya mayoritas dari kita sudah punya dalil sendiri2, baik yg melaksanakan maupun yg meninggalkan.

Bagi saya sendiri, lebih aman untuk meninggalkan hal2 yg meragukan. Masih banyak amalan yg jelas2 dasarnya yg bisa kita amalkan setiap saat.

wa-allahu a’lam.

27 07 2010
dwiyono17

Alhamdulillah…
semoga kita senantiasa diberikan petunjuk, rahmat, hidayah dan ampunan Nya…
semoga terjalin silaturhami yang baik diantara kita, diantar kita semua sebagai mahkluk ciptaanNya…
salam…

27 07 2010
aldi

Saya setuju dng mas dwi, yang menguatkan adalah kaidah fikihnya “semua ibadah adalah terlarang kecuali ada perintahnya, dan semua masalah mumalah atau keduniaan dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya” . Karena untuk masalah dunia Rosul mengatakan “kamu lebih tahu tentang urusan duniamu”.

27 07 2010
dwiyono17

Assalamu’alaikum wr wb
terima kasih saudara ku aldi,
untuk urusan mua’amalh: Nabi saw. bersabda, “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.” (HR Muslim) Hadits inilah yang menjadi dasar kaidah ushul fiqih yang menyatakan bahwa pokok hukum dalam urusan muamalah adalah sah (halal), sampai ada dalil (yang qath’i) yang membatalkan dan mengharamkannya. Dengan kata lain, selama tidak ada dalil yang dengan tegas mengharamkannya, maka hukumnya tidak haram.
untuk masalah hubungan dengan Alloh:
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”.
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
“Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)”
mohon koreksi.
Mohon maaf, semoga Alloh senantiasa membimbing kita di jalan yang diridhoi…
Wassalam

27 07 2010
Dede

Assalamualakum….

Baca surat yasin dan shalawat kan ngga ada salahnya mas…..
justru itu malah baik dari pada kita tdr/jalan2…ngga ngapa2in d malam nisfu sya’ban lebih baik kita baca Al- qur’an/surat yasin jga selawatan..

kang mas….itu Fastobiul Khoirat atw fastabiqul khairot….klo menurut sya adalah Fastabiqul khairot

27 07 2010
dwiyono17

waalaikum salam wr wb
saudara ku dede…
siapa yg mempermasalahkan?
di sini kita menyampaikan amalan yg dilkukan hanya di malam tertentu. karena dari pada tidak ngapa2in tiap malam, bukan hanya malam tertentu.
terima kasih koreksinya, akan saya perbaiki, karena salah ketik,
salam

21 11 2010
demo

kalau sy setuju mas Dwi 100% . karena ibadah harus ada perintah nya, ada contohnya melalui dalil2 yng shahih.

25 11 2010
dwiyono17

agar kita tidak terjebak perangkap bid’ah, Alloh memang Maha Pemgampun namun sebagai manusia waji hukumnya untuk belajar/mencari tahu (iqro‘)

22 05 2012
Muhammad Wachid Darojat

Bismillah
Kita lebih pas dengan dasar Al Quran: bukan dengan Kaidah :
Mohon beri reverensi kalo kaidah itu dapat untuk dasar beragama Al Islam.

Salah satu Dalil tidak boleh ibadah kecuali diperintah itu a.l :
Surat Al Bayyinah ayat 5 kan:
Wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlisina lahuddiyna khunafaaa’
Dan tidaklah kamu diperinta kecuali untuk beribadah denganh memurnikan/mengikhlaskan dalam beragama, dengan lurus.
Atau surat Al Hasyr : 7 akhir.
Wa ma aatakumurrasula……
bagaimana Mas Dwi? Mhon diluruskan trims.

19 06 2012
suci ade purnama

jazakumulloh

23 06 2012
ega akbar

Assalamualaikum.wr.wb…

Syukron atas ilmunya.
Ane lebih setuju yang ini akhi :
Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.
Karna menurut ane dan bbrapa hadist yg ane ketahui Rosulullah tidak pernah berkumpul [d̲̅i̲̅] masjid untuk melakukan ibadah penghususan membaca yasin dan sholat sunah berjamaah pada saat malam Itu α̇̇P̶̲̥̅ α̇̇‎. Lg hingga membawa Air mineral yg setelah [d̲̅i̲̅] baca2kan secara. Berjamaah mendapatkan Keberkahan.

Dan pertanyaan ane α̇̇P̶̲̥̅ α̇̇‎ ada dalil yg menyebutkan pada bulan. Sya’ban kita dianjurkan Untuk bermaaf2an?
Mohon ilmunya akhi…
Maaf klo Ada khilaf dan salah, Kebenaran hanya milik اللّهُ S.W.T

2 07 2012
Naily Fitriyah

mari kita galang ukhwa islamiyah dengan tdk saling menyindir dan menyalah kan sebuah amalan , lana a’maaluna walakum a’maalukum.
untuk nisfu sya’ban ! saya rasa masih ada hadits ;
Dari Ibnu Majah dari Ali ra. dari Nabi saw bersabda bermaksud, “Apabila tiba malam Nisfu Syaaban, lalu berqiyamullail pada malamnya, dan berpuasa di siangnya, maka sesungguhnya Allah swt turun ke langit dunia ketika matahari terbenam dan berfirman, “Adakah disana orang yang memohon keampunan, lalu Aku mengampunkan dia ? Adakah di sana orang yang memohon rezeki, lalu Aku memberi dia rezeki ? Adakah di sana orang yang di beri ujian bala bencana, lalu Aku menyejahterakan dia ? Adakah di sana … adakah di sana … ? sehingga terbit fajar”.
Dari Al-Baihaqy dengan sanad-sanadnya dari Aisyah ra. bahawa Nabi saw bersabda “Jibril telah mendatangi aku dan berkata: Malam ini adalah malam Nisfu Syaaban. Pada malam itu Allah membebaskan hamba-hamba dari siksaan Api Neraka seramai bilangan kambing Bani Kalb (merentasi satu tempat) selama sebulan. pada malam itu Allah tidak menoleh kepada orang yang melakukan syirik, pengadu domba (kaki batu api), pemutus silaturrahim, penderhaka kepada kedua ibu bapa dan orang yang ketagih arak”. Bani Kalb adalah kabilah Arab yang terbesar atau yang memiliki bilangan kambing yang terbanyak.

3 07 2012
Mas Han

Mas ayo kt sama membuka otak dan fikiran kita sbg mahluk ciptaan Allah,
kira2 kalo ada sekelompok jamaah yg membaca srt Yasin ,sholat taubah,dimalam nisfu Sa’ban kira2 Allah murka ngga’ logika saja,Mas ….Dwi yg terhormat.

Masih masuk dlm ayat Wad kuruNi adkurukum n ayat Fatubu ilaloh taubatan nasuha, mohon dijawab.

3 07 2012
rita

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِي ketemu artikel yg bagus. Tadinya saat saya malas belajar agama, paling benci kalo ada yang ngata2in ibadah ini itu adl bid’ah.
Sekarang malu, udah bodoh koq masih ngeyel. Mungkin sifat manusia, gengsinya lebih tinggi dari akalnya ​​Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε….
Insyaallah semakin semangat memperdalam lg tentang Islam, yah walaupun sudah sangat telat (udah uzur baru mau belajar hiikss)
Terimakasih atas ulasan mengenai bid’ah.

4 07 2012
Fahmi

Subhanallaoh .. Mas Dwi..
Banyak dari kita memang cuma maunya ikut2 an, terjebak sama kata khilafiyah, padahal belum tahu apa itu artinya,
setuju bahawa dalam hal duniawi , iptek , kemasyarakatan semuanya boleh kecuali dilarang oleh agama
hal ibadah akhirat yg khusus, seperti shalat, puasa, haji, dsb itu terlarang kecuali yang ada perintah atau contohnya.
kita memang wajib belajar banyak, bukan karena mau jadi kyai, tapi karena ikhlas dan sesuainya ibadah kita sesuai tuntunan sunnah

4 07 2012
ikhsan permana

alhamdulillah,
terima kasih mas dwi,,
insya allah, jangan sampai saya dan keluarga menjadi pengikut adat istiadat, mudah-mudahan kami dapat belajar terus tentang islam yang sesuai qur’an dan hadist
wassalam

5 07 2012
Jaedrivandi Andi

Asalamu alaikum mas dwi
jadi intinya klo semalam kita mengadakan yasinan 3 kali dan berdoa bersama sama dalm masjid atau mushola berarti sia sia donk mas padahal inti kita mendekatkan diri dengan cara begitu dan dilakukan pd pertengahan sya’ban kan gak di larang?

23 06 2013
mualimin.sa

Asslmkm.
Untuk maslah bi`ah tidak pernah ada titik temunya untuk bersepakat, karna manusia punya prinsip masing2 dalam mengambil istimbatnya, mempertahankan argumentasinya namun terkadang suka kebablasan, dengan sakleknya mengatakan orang yang nisfu, membaca yasin di fonis bid`ah dan bid`ah pasti neraka, sekalipun dengan cara halus tidak menghukumi halal dan haram, yang suka mengfonis adalah sebenarnya orang yang bertentangan dengan islam, bukankah yang menjalankan hal2 seperti nisfu baca yasin itu orang2 yang juga faham terhadap agama, banyak ulama – ulama yang pandai bahkan dia punya pondok pesantren menjalankan hal ini, sya faham mas dwi tdk mengfonis itu, mohon teman2 untuk arif dan bijaksana kalo kita ngikuti perbedaan hancur kita, contoh adzan shalat jumat, ada yang satu dan dua, karna kita yakin yang mengajarkan itu adalah orang2 berilmu , jangan suka merasa benar sendiri, yang mengatakan nisfu sya`ban bid`ah adalah khabar dari ulama, yang menganjurkan agar nisfu sya`ban juga ulama, apakah kita mendengar hadits langsung dari nabi kan tidak, pasti dari ulama. mari kita arif sajalah. dengan perbedaan.

24 06 2013
j. waluyo hadi

Assalamu’alaikum Wr.Wb
tidak ada satupun makluk Alloh yang tau tentang rahasia Nya. pengetahuan tentang akidah wajib bagi muslim, tapi jangan lupa bahwa apa yang mereka lakukan dan tidak sama2 mempunyai dasar yang diyakininya, hancurnya umat islam bukan dari luar tapi dari dalam, banyaknya kelompok dalam islam sudah disampaikan sejak jaman Rosululloh sebagai tanda akan hari akhir, tidak ada makluk yang kepandaianya melebihi sang pencipta, oleh karena itu janganlah perbedaan engkau jadikan sebagai perdebatan, jadikan perbedaan sebagai penambahan niscaya keutuhan umat akan terpelihara, Alloh maha Besar, Alloh Maha Bijak, Alloh Maha mengetahui, Semua amal tergantung pada niat……Wassalam

26 06 2013
Mistam Abdurrahman

Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya ga bertanya mas dwi cuma sumbang saran sedikit…Memang setiap amal itu harus ada rujukan baik dari hadis nabi atau Al-Quran, cuma saya hanya ingin meyakinkan bagi saudara kita muslimin semua yang mengamalkan dan menghidupkan malam nisfu saban supaya jangan ragu-ragu terhadap yang di yakinianya dengan alasan…..
1. memakmuran masjid atau musholla adalah perintah allah dan disunahkan oleh nabi…jadi kalau melaksanakan amalan pada malam nisfu saban dimasjid atau musholla kita jangan ragu ragu ( famayya’mal misqolladtzarrotin khoiroyyaroh wama ya’mal mistqoladzarrotinsaroyyaroh)
2. Membaca surat yasiin adalah membaca salah satu surat dari Al-Quran itu juga perintah Allah dan Sunah nabi.
3.Berdoa itu juga sama perintah Allah
dan masih banyak lagi alasan pendukung amaln malam nisfu saban, intinya bagi yang mau mengamalkan kita doakan mudah-midahan amalanny ikhlas dan mendapat Ridho dari Allah sedangkan yang tidak mengamalkan jangan
sampai munyalahkannyya, kita saling menghormati dan menhgargai semua baik yang mengamalkan atau itu tidak semua ada pegangannya jangan sampai mengganggap benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Nitip untuk semua mari kita belajar ikhlas dalam beramal, hanya Ridho Allah yang kita cari.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 216 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: