Kerbau Ditabrak, Pemilik Kerbau Ditahan (Mana keadilan)

13 09 2009

kisah dibawah ini memerlukan keadilan, untuk kaum miskin yang tertindas. karena kerbau yang lari ketakutan saat kereta api lewat sehingga kerbau tertabrak dan kereta jatuh, polisi menangkap bak menangkap penjahat kelas kakap hingga diturunkan tim buser.
Ada yang mau membantu? ayo kita bantu kaum tertindas.
Keluarga Rasim, Pemilik Kerbau yang Tergilas KA Penataran

Anak Enggan Sekolah, Anggap Kereta yang Salah

Peristiwa kecelakaan KA Panataran yang menabrak kerbau pada 4 September lalu menyisakan kepedihan bagi keluar Rasim, pemilik kerbau. Setelah sepekan kecelakaan di KM 42 Desa Banjararum, Karanglo, itu keluarga Rasim baru bisa mengeluarkan uneg-unegnya.

Mardi S.-Bambang Tri

Rumah sederhana milik Rasim di Dusun Bodosari, Gang Melati, RT 06 RW 02, Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, siang kamarin tampak lengang. Dari jalan, rumah menghadap selatan bercat putih di seluruh bangunan, itu tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Tidak satu pun orang yang terlihat di dalamnya.

Setelah pintu diketuk berulang kali, baru keluar seorang pria muda dengan wajah lusuh. Dia menyapa penuh curiga kepada wartawan koran ini. ”Cari siapa?” tanya pria itu yang belakangan diketahui bernama Edy Siswanto.

Edy adalah menantu Rasim dari anaknya nomor 4, Prihatin. Setelah tahu yang datang adalah wartawan, Edy baru mau mengubah sikap curiganya. Pria berkulit sawo matang ini mempersilakan masuk ke ruang tamu untuk mengetahui lebih banyak tentang kondisi rumah tangga pemilik kerbau yang kini ditahan di ruang tahanan Mapolres Malang.

Setelah duduk, Edy terlihat agak sedikit bahagia. Dia berharap kedatangan wartawan ke rumahnya bisa mengabarkan bagaimana kegelisahannya atas penahanan polisi terhadap mertuanya. ”Kulo niki mboten perso hukum. Tapi heran kulo kebo niku mblayu mboten gara-gara bapak, tapi sepur sing ngebel banter-banter. Akibate kebo bingung mblayu trus ketbrak (Saya ini tidak tahu hukum. Kerbau itu lari bukan karena bapak, tapi kereta karena bel kereta yang keras, akibatnya kerbau itu bingung dan tertabrak),” kata Edy.

Rasim sendiri sepengetahuan Edy, saat itu sudah berusaha mencegah agar kerbau betina itu tidak terus lari. Caranya dia memegang kuat-kuat tali tampar pengikat yang terpasang di lehernya. Karena kerbaunya panik mendengar suara klakson KA, maka si kerbau lari tak terkendali. ”Bapak kuwalahan dan terseret hingga mendekati rel KA,” imbuh bapak dua anak ini.

Rasim berpikir, jika terus memaksakan memegangi tali, dia akan ikut tertabrak KA. Tidak ingin mati konyol, Rasim pun melepas pegangan talinya dan membiarkan kerbaunya lari masuk ke lintasan rel KA. Dalam hitungan detik, kerbau betina itu tergilas bagian depan gerbong pertama. Akibatnya, rangkaian lokomotif putus dengan gerbong pertama. Gerbong itu terguling, selanjutnya disusul dua gerbong di belakangnya keluar rel. Demikian juga nasib lokomotif yang dimasinisi oleh Dwi Ajar Wibowo dan asisten masinis Darsono, keluar rel lalu terguling ke sisi timur rel dan menabrak tembok PR Bentoel.

Saat gerbong dan lokomotif terguling, Rasim merasakan ketakutan yang amat sangat. Dia bergegas lari mengejar kerbau jantannya dan membawanya menjauh dari lokasi kejadian. Kerbau itu ia titipkan ke satpam di perumahan Karanglo Indah yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian lalu pulang.

Tiba di rumah, Rasim menceritakan semuanya pada isterinya, Misri. Niatan untuk kabur, sebenarnya tidak ada dalam benak Rasim. Sebagai warga yang baik, dia curhat ke kepala desanya. Oleh kepala desanya Rasim disuruh bersembunyi untuk menenangkan diri agar bisa berpikiran tenang. Rasim pun memilih kabur ke sawah. Baru malam harinya pulang ke rumah anaknya di Blimbing dengan jalan kaki. Di rumah anak pertamanya itulah Rasim ditangkap polisi.

Setelah mertuanya mendekam di tahanan, rasanya kebahagiaan keluarga ini seketika hilang. ”Dua anak bapak yang masih kecil, yakni Udin (10) dan Hendik (13), selalu mencari ayahnya. Katanya kangen dan enggan sekolah,” kata Edy.

Kesedihan bukan hanya ditunjukkan dari anak-anak Rasim, tapi tiga ekor kerbaunya juga terlihat sedih. ”Nafsu makannya berkurang, apalagi kerbau jantan. Setelah ditinggal mati pasangannya, kerbau ini nafsu makannya kurang,” katanya.

Sebagai bentuk pembelajaran, dia tidak lagi menerima order membajak sawah yang biasanya dilakukan Rasim. Edy merasa trauma jika akan ada peristiwa serupa seperti yang dialami mertuanya.

Di bagian lain, status tersangka yang ditetapkan polisi, tidak pernah dibayangkan Rasim sebelumnya. Pria polos tersebut tidak bisa berbuat banyak setelah polisi menerapkan pasal yang disangkakan kepadanya. “Saya tidak tahu harus berbuat apa. Kalau memang disalahkan memang kerbau saya,” aku Rasim saat ditemui Radar beberapa lalu.

Sejak peristiwa kerbau miliknya ditabrak kereta api, Rasim hanya bisa termenung. Dirinya tidak menyangka akan membawanya ke sel tahanan. Terlebih kerbau yang ditabrak itu merupakan sandaran hidupnya. Selain itu juga tabungan untuk kedua anaknya yang masih sekolah.

Dengan peristiwa yang baru saja menimpanya, dia tidak lagi bisa berkumpul keluarga. Bahkan satu kerbau yang tertabrak senilai Rp 8 juta juga tidak bakalan kembali. “Saya kepikiran rumah terus. Bagaimana sekolah anak-anak,” aku Rasim sambil mengusap mukanya.

Terlebih sekarang ini sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri. Seperti tahun sebelumnya, Rasim ingin bersama anak-anaknya. Bahkan membelikan pakaian untuk mereka. Namun keinginan itu harus ditunda terlebih dahulu. Hanya beberapa waktu keluarganya menjenguk di sel tahanan.

Sedangkan terhadap korban kecelakaan, Rasim meminta maaf sebesar-besarnya. Dirinya tidak bermaksud membuat celaka orang lain. Peristiwa kecelakaan itu murni musibah dan tidak ada unsur kesengajaan. Kalau dirinya dituduh lalai, Rasim menyerahkan ke masyarakat yang menilai. Dirinya tidak ada niatan untuk membuat celaka orang. “Kejadiannya sendiri sangat cepat. Saat kerbau saya kejar, kereta sudah sangat dekat,” aku Rasim. (*/war)

dikutip : Radar Malang


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: