Apakah dunia keilmuan sudah mendapat penghargaan?

13 03 2010

Menjadi pembicaraan di masyarakat, khususnya di kalangan akademisi dengan terbongkarnya seoarang guru besar (baca: professor) yang ternyata tulisannya banyak dari hasil plagiat, konon gelar profesornya dicabut, dan tentunya ini memukul dunia akademisi kita yang seharusnya memberikan contoh yang baik namun ternyata sebaliknya.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2007 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dalam pasalnya menyebutkan guru besar adalah seorang doctor atau S-3 sebagai persayaratannya selain menmpunyai angka kredit yang cukup. Sehingga jika ada seseorang yang mempunyai kualifikasi yang patut dibanggakan, mempunyai kemampuan pada tingkat nasional maupun internasional akan tetapi belum berpendidikan doctor maka orang tersebut tidak akan bias menjadi seorang guru besar dalam keilmuannya, sehingga sangat disayangkan kalau pendidikan Indonesia kurang atau mungkin tidak menghargai jasa orang-orang yang berkualitas pada keilmuan.

Keilmuan tidak hanya bergantung pada banyak atau sedikitnya artikel yang telah ditulisnya melainkan kompentensi keilmuan yang diajarkan dan diabdikan kepada masyarakat luas serta pengembangannya, jika hanya berdasar dengan angka kredit dan gelar doctoral saja, sungguh tidak adil dan tidak tepat.

Kemampuan orang-orang yang hanya sarjana tetapi kemapuan keilmuannya berkualitas akhirnya tersingkirkan dengan orang-orang yang telah menempuh program doktor, dan telah banyak menulis baik buku, jurnal atau artikel, akan tetapi tulisan tersebut beberapa diantaranya hasil plagiat, tentunya akan memalukan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional harus berani melakukan terobosan hokum, dalam kasus seperti di atas agar orang-orang yang menguasai ilmu di bidangnya mendapat kehormatan menyandang  gelar professor sebagai wujud penghargaannya, dan seharusnya gelar professor diberikan oleh Negara, bukan karena usulan.

Pemerintah Indonesia ini tampak kurang dalam menghargai hal di bidang keilmuan, pendidikan meski sudah diamanatkan dalam konstitusi kita, yakni UUD Negara RI Tahun 1945. Anggaran pendidikan sampai 20% dari APBN akan tetapi penggunaan APBN yang besar tersebut masih banyak kebocoran, sehingga yang terserap murni untuk kepentingan pendidikan sangat sedikit. Kembali kepada bagaiman Indonesia mengapresiasi kemampuan atau keilmuan seseorang selama ini.

Kehorhamatan bagi siapa saja, khususnya kalangan akademisi, peneliti untuk mendapatkan gelar “professor” karena gelar tertinggi dalam bidang keilmuan yang harus diberikan kepada siapa saja yang mempunyai karya atau kemampuan tertentu di bidangnya, baik melalui penelitian maupun akademisi, tentunya bukan hasil plagiat.

Semoga pemimpin Indonesia menyadari hal ini, kita harus menghargai bidang keilmuwan untuk Indonesia jauh lebih maju dan lebih baik.

ditulis oleh:

Dwi Yono

Sabtu, 13 Maret 2010


Aksi

Information

One response

15 03 2010
alice pngen .....

wew

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: