dalanan seng ruwet opo wonge seng ruwet??

2 04 2010

Saya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya tentang masalah transportasi dan carut-marutnya tranportasi dan parkir di daerah pandaan, kalau mau dilihat ada 2 transportasi yang ada di Pandaan, dokar dan ojeg yang melayani keliling pandaan. Kita tidak bisa menyalakan dokar sebagai biang kemacetan yang ada di Pandaan, karena dokar memang seperti itu ukuran dan bentuknya, jalan di pandaan ya sebesar itu sehingga kita harus melihat siapa saja yg menggunakan trotoar, ada PKL, tukang ojeg, kalau mau PKL ditertibkan dan trotoar bersih dari PKL akan lebih baik, dengan memusatkan atau merelokasi tempat PKL pada satu titik (saat ini berada di daerah pasar lama) tetapi penataan nya masih kurang, yakni masih melubernya PKL yang berjualan di tempat tersebut, sehingga bahu jalan termakan untuk tempat jualan dan tempat parker. Di sinilah perlu ketegasan petugas untuk membuat dan menegakkan aturan agar dilaksanakan. Itu salah satu factor kemacetan yang ada di Pandaan, jangan menyalahkan dokar dan ojeg yang banyak, ojeg ditata dan diberi seragam, sehingga tidak semua orang bisa mangkal disitu dan menjadi tukang ojeg baru, paguyuban ojeg itulah harus dijalankan yang dulu perna ada. Kalau bicara moda transportasi, Pandaan adalah kota kecil dan banyak alternative dilaksanakan, dokar tetep ada karena dokar bisa menjadi salah satu moda alat transportasi untuk transportasi pariwisata yang ada sehingga bisa menjadi unggulan, tinggal menata atau mengatur tempat untuk dokar agar tidak menumpuk dengan angkutan yang ngetem dan ojeg yang mangkal karena akan menjadi titik macet, kalau semua berkumpul dalam satu titik secara bersamaan. Angkutan Pandaan-Bangil juga harus dicarikan tempat yg pas sehingga jalan Pandaan yang kecil tidak termakan sebagai tempat mangkal angkutan. Dokar dalam Wikipedia disebutkan sebagai berikut. Dokar merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Yogyakarta dan sekitarnya. Dokar berbeda dengan andong. Dokar hanya mempunyai dua roda dan ditarik oleh satu kuda saja, sedangkan andong mempunyai roda empat yang bisa ditarik satu atau dua kuda. Keberadaan dokar sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas tersendiri di tempat-tempat wisata, seperti Parangtritis, Alun-alun Kidul Yogyakarta Indonesia. Nah ini kita jadikan hal yang sama untuk pandaan, kita percantik dokar yang ada, dan kebersihannya, kusirnya dibekali sedikit ilmu pariwisata, meski kebanyakan penumpangnya adalah warga pandaan sendiri. Bagaimana? Menanggapi adanya Bike to Work saya sangat setuju, mari kita biasakan kita menggunakan sepeda pancal untuk kegiatan sehari-hari, sayangnya kita masih orang yang bermental “subordinat” artinya kita lebih senang “dijajah” dalam kehidupan kita sehari-hari, kita kurang berfikir tentang bahan bakar gampangane bensin yang diisikan dimotornya, karena mentang-mentang bensi hanya Rp.4.500,-/Liter jadinya kemana-mana pakai motor (sepeda motor) padahal mung jarak 15 meter, coba kalau kita mau jalan kaki atau menggunakan sepeda pancal bisa menghemat pengeluaran untuk beli bensin, bukan masalah bisa atau tidak bisa beli bensin tetapi kita berfikir bahwa bahan bakar fosil atau yang berasal dari fosil itu tidak dapat diperbaharui, kalau habis mau pakai apa? Dan juga mengurangi polusi karbon atau belog/kelok dari motor. Ayo kita berfikir lagi, kita gunakan transportasi masal, dokar atau kembali mancal dan jalan kaki, semua itu sehat. Disiplin dalam berkendara juga harus diperhatikan, saya yakin teman-teman kalau naik motor tidak pakai helm, alasannya dekat, padahal itu sikap disiplin untuk keselamatan diri sendiri, kalau tidak bisa disiplin, bagaimana kita bisa mengubah kehidupan kita?

Mohon maaf, jika tidak berkenan atau ada yang salah, kritik dan saran terbuka untuk saya. Kita harus berfikir maju untuk Pandaan dan pasuruan lebih baik. Tulisan ini saya buat untuk menganggapi diskusi di FB VISIT PANDAAN, kita bangun dan bangun Pandaan dengan semangat UNTUNG SURAPATI…


Aksi

Information

One response

3 04 2010
ernidw

setuju, lestarikan Dokar, menurut saya yang bikin macet orangnya, soalnya kalo Pandaan sajah dibilang macet, begimana dengan jakarta atau surabaya ? lak yo macet akut,.. Pengaturan terhadap pengguna jalan menjadi PR besar bagi semua, kudu disiplin intinya, tapi kepala orang pandaan banyak itu yang jadi masalah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: