Ngalap berkah warisan Mbah Marijan

5 11 2010

MS Farid
Pemerhati Budaya Jawa

Mbah Maridjan telah dimakamkan, setelah awan panas wedhus gembel membakar tubuhnya dan jasadnya sulit dikenali. Kematian juru kunci Gunung Merapi itu dipastikan dari batik yang melekat di jasad dan salah satu ibu jarinya yang bengkok.

Dalam mitologi Jawa, Gunung Merapi bukan hanya sebuah gunung biasa. Gunung itu dianggap sebagai salah satu titik dari segitiga pusat bumi, sederajat dengan Keraton (Jogjakarta dan Solo), dan Laut Selatan. Mbah Maridjan, yang mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970, dan sejak tahun 1982 diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono IX menjadi juru kunci Gunung Merapi, bertugas menjaga keselarasan hubungan antara ketiga ‘pusat kekuasaan’ tersebut.

Masih dalam mitologi itu, letusan Gunung Merapi tak pernah dianggap sebagai sebuah bencana. Peningkatan aktivitas Gunung Merapi selalu dimaknai bahwa sang Penguasa Merapi sedang punya hajat. Mbah Maridjan, sebagai orang yang ditunjuk menjadi utusan Keraton Jogjakarta di Gunung Merapi, tidak pantas meninggalkan tempat tinggalnya saat sang Merapi sibuk punya gawe.

Alhasil, dalam perspektif kepercayaan itu, juru kunci yang diberi gelar Mas Penewu Suraksohargo itu tewas saat menjalankan tugas yang diembannya. Bagi sebagian orang, keputusannya untuk tetap tinggal di Kinahrejo, yang hanya berjarak 4 kilometer dari Puncak Merapi adalah sebuah tindakan konyol. Tetapi, bagi Mbah Maridjan, keputusannya itu adalah pelaksanaan dari sebuah tanggung jawab, yang seringkali dia katakan sebagai amanah Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Setiap kali Gunung Merapi berulah, Mbah Maridjan memang tidak pernah mau ikut mengungsi. Dia bahkan berani ‘menentang’ perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X karena dia menganggap bahwa Hamengkubuwono memberikan perintah bukan dalam posisinya sebagai seorang Sultan Jogjakarta, tetapi sebagai Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta.

Uniknya, Sang Sultan pun rupanya juga memahami sikap abdi dalemnya ini. Saban kali ditanya ihwal penolakan Mbah Maridjan untuk mengungsi, Sultan hanya menyatakan, bahwa sebagai gubernur dia harus berusaha menjaga keselamatan warganya. Tetapi, sikap dia sebagai penguasa Keraton Jogjakarta, tidak pernah dia utarakan. Sangat boleh jadi, dalam posisinya sebagai seorang Sultan, Hamengkubuwono X pun menghargai kesetiaan abdi dalem ini.

Warisan Maridjan

Keputusan Mbah Maridjan untuk tetap bertahan di rumahnya pada saat Gunung Merapi meletus memang bisa diperdebatkan. Mereka yang bisa memahami jalan pikiran Mbah Maridjan akan mengangkat jempol dan menyebutnya sebagai pahlawan yang gugur saat menjalankan tugas. Sementara mereka yang tidak memahami jalan pikirannya akan memandang Mbah Maridjan sebagai sosok konyol yang rela mati sia-sia.

Apalagi, keyakinan dan jalan pikiran Mbah Maridjan itu tidak hanya membuat dirinya mati sendirian. Tim SAR menemukan sedikitnya ada 16 jenazah di rumah sederhana milik sang juru kunci itu. Para korban lain itu boleh jadi tidak sempat mengungsi, tidak mau mengungsi karena sang juru kunci memerintahkan mereka untuk bertahan, atau karena mereka memang memiliki keyakinan yang sama dengan Mbah Maridjan. Tetapi, satu hal yang pasti, mereka semua pasti sadar bahwa aktivitas Gunung Merapi selalu identik dengan semburan awan panas atau luapan lava pijar yang mematikan.

Namun, satu hal yang pasti, sebagian masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi memang berkeyakinan bahwa mereka “punya utang” kepada sang gunung. Utang itu sangat besar, sehingga mereka merasa tidak pantas meninggalkan Gunung Merapi, apa pun kondisi yang bakal mereka hadapi nantinya. Mereka rela menyerahkan nyawa demi membayar utang itu.

Masih dalam mitologi Jawa, Gunung Merapi bukanlah sosok yang menakutkan. Letusan Gunung Merapi justru lebih dianggap sebagai berkah ketimbang sebagai sebuah musibah. Selain menghadiahkan kesuburan tanah, letusan Gunung Merapi juga memberikan jutaan meter kubik material seperti pasir dan batu –yang kemudian menjadi sumber penghasilan masyarakat di lereng gunung ini.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau tidak dengan jalan pikiran Mbah Maridjan ataupun dengan mitologi tentang Gunung Merapi yang diyakini sebagian masyarakat itu. Namun, satu hal, Mbah Maridjan meninggalkan satu pelajaran besar yang harus selalu diingat oleh bangsa ini. Dia rela mati demi tugas dan amanah yang dia emban. Padahal, kecuali gelar kebangsawanan yang boleh dia sandang, Mbah Maridjan sama sekali tidak memperoleh keuntungan apa pun dari statusnya sebagai kuncen, sebagai juru kunci.

Dia tidak hidup berkelebihan. Untuk menghidupi keluarganya saja, Mbah Maridjan tetap harus bercocok tanam seperti halnya tetangga di sekitarnya —sebelum akhirnya dia menjadi bintang iklan minuman berenergi itu, tentu saja. Bangsa ini tentu berharap dapat memiliki pemimpin yang punya dedikasi dan semangat pengabdian sebesar yang dimiliki Mbah Maridjan.

Selamat jalan Mbah. Kisah hidupmu pantas diceritakan kepada anak cucu

Sumber : Harian Surya

tulisan ini dimuat di harian pagi Surya pada 1 Nopember 2010


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: