Lima Tahun Bersemi, Tiba Musim Berdusta


Lima Tahun Bersemi, Tiba Musim Berdusta
Oleh: Drs. KH. Hasyim Muzadi
———-

Hampir sebulan lalu, bangsa Indonesia dibekap oleh berjuta kelebatan kata-kata. Bermil-mil rangkaian kata meluncur dari mulut orang-orang yang mendeklarasikan diri atau sekurang-kurangnya telah resmi dibaiat menjadi pemimpin, dalam waktu hanya sekejap mata.

Penjajahan kata-kata ini kembali akan terulang dalam dua bulan ke depan menjelang pemilihan umum presiden. Menjadi ironis, karena ini justru terjadi setiap lima tahun sekali, di saat bangsa Indonesia benar-benar membutuhkan lahirnya para pemimpin yang jujur. Pengalaman mengajarkan kita, betapa banyak kata-kata yang berhamburan dan betapa tindakan tersebut tidak lebih dari sekadar penjajahan kata-kata, sehingga menanggalkan makna yang sesungguhnya. Tindakan ini dilakukan secara turun temurun dan secara turun temurun pula kita merencanakannya dalam kalender kenegaraan bangsa.

Dalam catatan sirah nabawiyah, baginda Nabi Muhammad SAW hanya membutuhkan sekian tahun untuk menyudahi perlawanan kaum paganis yang musyrikin, tetapi beliau hingga akhir hayat tiada henti berjuang dengan sekuat daya dalam menghadapi para pengkhianat, seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, yang kerapkali berkeliaran di majelis-majelis kaum Muslimin. Bahkan, hanya beberapa saat setelah Rasulullah wafat, khalifah pertama Abu Bakar, tugas tunggalnya: menghabisi para pendusta agama. Mereka adalah pengkhianat yang bebas bertahun-tahun dalam lingkungan ketiak kepalsuan. Para pengkhianat adalah yang apabila berkata lalu bohong, jika berjanji lantas diingkari dan kalau dipercaya malah berkhianat. Apa sebutan yang pantas bagi pemimpin dan calon pemimpin yang secara periodik berdusta? Kebohongan yang dirancang selama lima tahun. Sungguh!!.

Sebagian besar dari para politisi ini, malah sanadnya sudah diketahui rakyat, sebagai pendusta yang akhirnya oleh negara diresmikan sebagai pemimpin. Tak sedikit pula, untuk kepentingan kelompok, mereka menelanjangi diri sendiri dengan mengaku jujur, meski sebenarnya berdusta. Bagi mereka yang terbiasa dengan berdusta, maka sungguh akan sulit baginya untuk bisa membedakan antara bersikap jujur atau bersikap dusta. Sufi besar Al-Junaid malah berkata: “Orang yang jujur berubah empat puluh kali secara positif dalam sehari, sedangkan para pendusta berada dalam satu keadaan selama empat puluh tahun.”

Manusia paling hina di sisi Allah adalah yang tanpa malu-malu berbuat durjana tetapi justru sangat bangga diri dengan dosa-dosanya. Karena terlalu ‘jengkelnya’ baginda Nabi Muhammad SAW terhadap kelompok ini, sampai-sampai beliau menghardik dengan ancaman sungguh sangat keras, “Terkutuklah orang-orang yang membanggakan dosa-dosanya. Terjunlah kalian ke neraka Wayl.” Mengaku jujur padahal berdusta, sungguh sebuah aib yang amat sangat tidak layak melekat pada diri seorang pemimpin atau calon pemimpin. Bangsa kita ini, benar-benar membutuhkan pemimpin yang jujur, seorang yang “shiddiq”. Sebuah julukan yang melekat kuat pada diri khalifah Abu Bakar.

Bagi orang yang bersikap jujur, janji Allah amat membanggakan: mengiringi derajat kenabian. “Maka mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah: yaitu para nabi, orang-orang yang menempati kejujuran, para syuhada dan orang-orang saleh.” Betapa mahalnya harga kejujuran yang derajatnya sudah pasti di sisi Allah. Dan betapa murahnya harga yang harus dibayarkan karena menggadaikan sikap agung ini. Beberapa kelompok kritis malah mengantisipasi kian kuatnya kelompok dusta dengan menebar jaring khusus melalui anti-politisi busuk.

Apa yang digambarkan oleh ulama besar Abu Sulaiman Al-Darany soal kejujuran sungguh berbanding terbalik dengan polah tingkah para pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini. Seperti layaknya kiat-kiat niaga, mereka jual sebanyak mungkin janji-janji tetapi terus berusaha sekuat mungkin untuk tidak menepatinya. Orang yang jujur sejujurnya akan selalu merasa malu kalau diketahui bahwa dirinya jujur, sehingga untuk menyampaikan keinginannya ia harus memeras habis kondisi batinnya.

Menurut Sulaiman Al-Darany, “Jika orang jujur ingin menggambarkan sesuatu yang ada dalam hatinya, maka lisannya tidak akan mengatakannya.” Dengan demikian, kalau konteks kampanye yang dilakukan ribuan politisi itu ditarik sejajar dengan kaidah Al-Darany soal kejujuran, maka betapa bengkaknya jumlah pemimpin dan calon pemimpin yang belajar untuk tidak jujur. Menjadi semakin buruk, kalau ada di antara kita yang tidak bisa mengendalikan kata-kata meski itu bukan isi hati yang sesungguhnya. Dan itu akan semakin buruk, kalau apa yang dikatakan sebenarnya bukan yang diinginkannya. Sungguh, betapa merananya kita kalau harus dipimpin oleh kelompok semacam ini. Sebenarnya, apa yang diteriakkan sebagai anak bangsa ini, sudah bertahun-tahun menjadi jeritan batin terdalam rakyat Indonesia.

Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan rentannya rasa aman, kian menguatnya sikap memenangkan kelompok sendiri, sifat saling menghujat, merenggangnya tali sosial, merajalelanya pelanggaran terhadap konstitusi atau semakin bertenaganya hasrat melakukan praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), juga sudah lama difatwakan para cerdik cendekia. Padahal kalau para pemimpin dan calon pemimpin mau bersikap jujur, semua investasi persoalan ini akan dengan mudah dapat kita selesaikan. Sebab, hanya dengan kejujuran semua pesoalan, serumit apapun depat dengan gampang untuk diurai. Menurut sufi besar, Dzun Nun Al-Misry, “Kejujuran adalah Pedang Allah. Tidak ada satu pun diletakkan di atasnya kecuali itu akan langsung terpotong.”

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip untuk pembaca sebuah gambaran utuh ulama besar lainnya, Harits Al-Muhasiby, saat ditanya dalam majelis perihal tanda-tanda kejujuran. Ia berkata: “Orang yang jujur adalah orang yang tidak peduli akan ketergantungan kalbu pada dirinya, tidak pula senang atas jasa-jasanya kepada manusia untuk dilihat dan yang tidak peduli apakah popularitasnya di mata manusia akan lenyap. Ia bahkan membenci bila perbuatan buruknya dilihat oleh orang banyak. Jika ia masih dibenci karena keburukannya diungkap, maka orang semacam ini perlu menambah imannya. Yang demikian itu, bukanlah akhlak orang yang jujur.”

Tuntunan Al-Muhasiby memang amat sangat berat untuk dilakukan, tetapi sekurang-kurangnya bagi pemilih dapat membaca, siapa yang jujur dan siapa yang berdusta di antara anak bangsa, para pemimpin dan calon pemimpin ini yang dilakukan kepada bangsa sendiri. “Tanda seorang pendusta adalah kegairahannya untuk bersumpah sebelum hal itu dituntut darinya.”

Dengan tetap selalu ber-tawakkal dan sambil memohon taufik dari Allah SWT, marilah kita bersiap-siap untuk menentukan pilihan terhadap calon pemimpin yang tak lama lagi akan kembali menghiasi lembaran-lembaran koran dan majalah, diulas di internet, muncul gambarnya di tabung kaca-tabung kaca serta suara-suaranya akan memenuhi gelombang radio. Mari kita bertekad mencari pemimpin yang jujur dan mari kita jadi pemilih yang jujur. Wallâhu a’lam bi al-Shawab [Makmun Rasyid/2016]

*Tulisan ini masih relevan untuk saat ini. Oleh sebab itu, saya meng-share kembali tulisan ini. Tulisan ini pernah dimuat di dalam dua buku yang berbeda. Buku yang disunting oleh Tim Azhari berjudul: Agenda Strategi Pemulihan Martabat Bangsa (Pustaka Azhari, 2004) dan buku Refleksi Tiga Kiai (Republika, 2004).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s